PESANTREN LUPA TUJUAN ASALNYA
“PESANTREN LUPA TUJUAN ASALNYA”
Pesantren adalah suatu lembaga pendidikan islam yang mulai diminati oleh
mayoritas umat islam saat ini terutama di Indonesia. Konon sejarahnya, adanya
pesantren yang ada di Indonesia di rintis oleh para pejuang islam saat itu.
Mereka adalah “Wali Songo”, sembilan wali yang menyebarkan islam di tanah
nusantara khususnya jawa. Mulai dari dalam bentuk halaqah kecil, sampai dalam
bentuk pengajian harian yang kemudian diasramakan.
Sudah dikenal banyak orang bahwa pesantren merupakan sebuah tempat di mana orang belajar (mengaji)
akan keislaman. Sebuah tempat paling mudah di akses oleh semua orang. Apalagi
kitab-kitab yang dipelajarinya sangat bervariasi sekali seperti dalam bidang ulum
al-Quran, Hadist, Tafsir, ushul al-Fiqh dan yang lain-lainnya, yang dalam
hal ini para petualang ilmu itu sangat gandrung mencarinya.Itulah awal dari
munculnya pesantren, yaitu hanya mempelajari ajaran-ajaran islam tentang
al-Quran dan Hadis.
Selanjutnya, pesantren mulai berkembang seiring dengan perkembangan zaman,
yang semula hanya mengajarkan ilmu keislaman yang mencakup Aqidah, syari’ah,
dan mu’ammalah, sekarang berkembang dengan membentangkan sayap
dengan dibumbuhi dengan pendidikan umum. Pendidikan umum itu adalah lembaga
pendidikan yang mengajarkan pendidikan umum seperti matematka, bahasa
indonesia, bahasa inggris, sains dan yang lainnya. Hal ini diupayakan agar
santri tidak ketinggalan zaman dengan kehidupan yang dihadapinya.
Dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, pesantren selalu berkembang
dinamis mengikuti zaman yang dihadapinya. Sampai-sampai, para cendekiawan dari
pesantren mulai diperhitungkan oleh khalayak umum. Saat ini tercatat sudah
banyak santri alumni dari sebuah pesantren yang menjadi bagian dari
pemerintahan, perindustrian, perbisnisan dan sebagainya. warna ini menjadikan
pesantren dan santri tidak hanya di depan kitab dan mengaji, akan tetapi bisa
menjadi dongkrak kehidupan di banyak elemen masyarakat yang ada.
Pesantren dengan segala kemajuannya menjadikan sebuah perubahan tujuan akan
didirikannya peesantren. Sehingga pesantren kehilangan tujuan asalnya. Bisa
dikatakan dalam bahasa jawa “iling cabange lali akare”. maksudnya,
pesantren saat ini telah mengembangkan sayap dengan segala inovasinya, namun ia
melupakan tujuan awal didirikannya pesantren.
Bisa dilihat dalam real pesantren yang ada sekarang sangatlah
menjunjung tinggi kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) untuk santri-santri yang
lagi Nyantri. Maka dari itu, ketika ada santri yang mau Nyantri harus
diseleksi terlebih dahulu baik dari segi intelektual ataupun akhlaknya bahkan
ada juga yang diseleksi dari segi financialnya. Tak sedikit santri yang ditolak
tidak boleh Nyantri di pesantren. Ini adalah salah satu alasan di mana
pesantren sudah kehilangan ruh-nya.
Dalam bidang akhlak misalnya, yang perlu dipertanyakan adalah mengapa
pesantren menolak para santri yang punya prilaku tidak baik atau bisa dikatakan
santri nakal. Kalau pesantren saja tidak mau menerima mereka, lalu siapa
lagi yang mau dan bisa merubah akhlak mereka yang buruk itu. Tidak ada yang
lebih kompeten merubah akhlak yang buruk kecuali pesantren. Sebenarnya ini
adalah misi Nabi Muhammad diberi risalah di dunia ini, yang beliau terangkan
dengan sabdanya:
“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurkan
akhlak yang mulia”.
Pesantren saat ini sudah kehilangan misi ini, yaitu pesantren yang notabene menjunjung tinggi
intelektualitas santrinya. Sehingga mereka lupa mengajarkan akhlak-akhlak yang
sesuai dengan tuntunan Nabi. Maka jangan heran jikalau sekarang banyak santri
yang otaknya cerdas dan encer akan teteapi mulutnya sangat tajam dan
mudah menyakiti hati orang lain. Bahkan, mereka pun sembrono berlaku
semena-mena dengan para ustadznya bahkan gurunya sendiri. Jadi, sudah saatnya
kali ini pesantren perlu mengajarkan akhlak yang tidak hanya dalam bentuk
teoritis akan tetapi dalam bentuk praktis.
Selain itu, dalam hal kejujuran ada sebagian pesantren yang melakukkan
kecurangan atau ketidakjujuran. Misalnya dalam hal keikutsertaan MTQ, tak
sedikit dari mereka yang memanipulasi identitas mereka dengan membuat umur
menjadi lebih muda agar bisa jadi peserta. Tidak hanya itu, waktu di saat
seleksi PBSB (Program Beasiswa Santri berprestasi) misalnya, sekali lagi banyak
sekali ketidak jujuran yang dilakukan. Seperti, meninggikan nilai raport agar
berkasnya bisa diterima, sehingga bisa mengikuti tes selanjutnya.
Ada lagi yang paling perlu dipertanyakan adalah mengapa pesantren masih
saja ada yang menolak orang-orang yang mau Nyantri akan tetapi tidak
memiliki uang sama sekali (tidak memilki financial). Inilah yang menjadikan
pesantren “iling cabange lali akare”. Dahulu semua kalangan, baik
dari orang menengah ke atas sampai menengah ke bawah semua diterima menjadi
santri. Tak terkecuali mereka berkumpul satu sama lain tidak memandang status
yang dibawanya. Inilah sebenarnya Core pesantren yang harus dibawa,
bahwasannya tidak membeda-bedakan status, golongan, dan derajatnya. Karena
sesungguhnya semua orang di mata Allah adalah sama, tergantung amal dan
perbuatanya.
Untuk menanggulangi itu semua. Pesantren hendaknya memperhatikan tujuan
asalnya didirikan pesantren yang sangatlah mencerminkan budi pekerti yang luhur
serta pesantren harus terbuka untuk semua orang. Untuk kaitannya dengan hal
yang berupa financial, pesantren perlu adanya lahan bisnis hingga bisa menutupi
keuangan yang dibutuhkan para santri seperti dalam bidang perindustrian,
perikanan, peternakan atau pun pertanian. Hal itu pula hendaknya yang mengurus
adalah para santri itu sendiri agar mereka mengerti akan kehidupan, bahwa segala
hal yang dinikmati merupakan hasil jerih payah yang telah diusahakannya.

Tidak ada komentar: